Skip to content →

SAE Nababan Sang Pemukul Lonceng: Pentingnya Tepat Waktu

Cukup banyak orang yang memberi testimoni betapa Pdt. Dr. Soritua Albert Ernst (SAE) Nababan adalah orang yang disiplin terkait waktu. Entah mereka orang yang kesehariannya bekerja bersama beliau, maupun sekedar orang yang baru sekali berjanji untuk bertemu.

SAE nyaris tidak pernah terlambat. Juga terbilang rewel jika rekan janjinya tidak tepat waktu. Tidak hanya untuk urusan pribadi, saat menjadi pemimpin baik di lingkup gereja maupun gerakan ekumenis, pendeta kelahiran Tarutung ini selalu mendorong agar tiap pertemuan dimulai dan diakhiri tepat waktu.

“Pertemuan yang tepat waktu merupakan satu hal yang menandai pelayanan ekumenis Soritua,” demikian Katolikos Aram I, pimpinan Gereja Ortodoks Armenia pernah memberikan testimoni. Sang Katolikos menjadi saksi bagaimana kedisiplinan Pdt. SAE soal waktu begitu mewarnai persidangan Dewan Gereja-gereja se-Dunia (WCC) yang mereka moderasi di era 2006-2013.

Di Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) pertemuan yang tepat waktu juga telah menjadikan pertemuan dan kerja ekumenis lebih efektif. Dalam banyak hal, itu mulai jadi kebiasaan saat SAE menjabat sebagai sekretaris umum lembaga ini.

Mengapa SAE bisa sebegitu ketat soal waktu? Saat menilik beberapa penggalan kisah di Selagi Masih Siang, kita bisa memperoleh beberapa petunjuk.

Satu yang segera terlihat adalah pengalamannya lima tahun sebagai pemukul lonceng di STT Jakarta. Di sekolah yang menempa para calon pendeta dan teolog ini, lonceng selalu dibunyikan untuk waktu-waktu makan serta waktu memulai dan mengakhiri perkuliahan.

“Saya melakukan tugas itu dengan gembira dan rupanya memuaskan rektor. Selama lima tahun saya tidak pernah diganti sebagai pemukul lonceng,” kenang SAE terkait pengalaman kuliahnya.

Dalam banyak hal ini kemudian yang membuatnya bisa mengatur waktu dengan baik. Selama studi lanjutannya di Jerman, pendeta yang satu ini sebenarnya aktif mengerjakan pelayanan ekumenis selain belajar.

Baca juga:  Selagi Masih Siang

Demikian pula selepas kuliah, ia pun bisa mengemban sejumlah amanat dari beberapa lembaga ekumenis dunia sembari tidak melupakan tanggung jawabnya baik di HKBP maupun gerakan ekumenis nasional.

Siapa sangka tugas sederhana sebagai pemukul lonceng ternyata bisa berdampak besar.

Bagikan

Published in Buku Masa Kecil