Skip to content →

Di Balik Krisis HKBP 1992-1998

Kemelut HKBP, begitu pemerintah Orde Baru memakai istilah untuk menyebut krisis yang terjadi di tubuh sinode gereja terbesar di Indonesia ini, yang ditandai dengan dua versi kepemimpinan selama 1992-1998.

Pdt. Dr. SAE Nababan, LLD selalu menolak istilah itu. Sebab istilah kemelut seolah membenarkan pemerintah harus masuk mengintervensi. Bahkan, di mata Ephorus HKBP yang satu ini, krisis itu sebenarnya punya banyak dimensi lain, sejak waktu-waktu sebelumnya tidak sekedar saat memuncak menjadi perpecahan administratif, tidak pula sekedar masalah pimpinan pusat HKBP.

Banyak pertanyaan yang nampaknya belum akan usai jika cerita tentang krisis ini diunggah. Dalam banyak narasinya, seringkali sudut pandang yang menyeluruh diabaikan dan cenderung hitam putih.

Sebagian warga jemaat HKBP yang mengalaminya pun lebih memilih untuk melupakan cerita dan enggan mengungkit luka jika harus mengurai fakta-fakta terkait krisis tersebut.

Fakta bahwa krisis itu adalah satu hal yang ndang na tartangishon, tagonan ma tinortorhon, sudah tak terkatakan kesedihannya, lebih baik di bawa dalam tari – membuat bahasan ini dinilai sebaiknya tidak terlalu diungkap, asalkan jemaat sudah bisa bersatu tanpa perpecahan.

Padahal, kejujuran membaca dan menghayati sejarah adalah pembentuk identitas. Krisis yang terjadi jelang era reformasi itu adalah cerita yang pahit-manisnya bisa jadi pelajaran berharga. Tidak hanya bagi kaum muda HKBP, tapi juga banyak gereja di Indonesia terkait relasi dengan kekuasaan negara, demikian pula masyarakat secara umum terkait sikap menjunjung hukum dan memperjuangkan demokrasi.

sae nababan

Porsi penceritaan krisis ini dari sudut pandang pelaku sejarah – mengambil bagian cukup banyak dalam catatan perjalanan Pdt. SAE Nababan bertajuk Selagi Masih Siang. Disini SAE tidak berniat membenarkan atau memuji diri atas sikapnya sebagai pimpinan HKBP selama krisis tersebut.

Baca juga:  SAE Nababan Sang Pemukul Lonceng: Pentingnya Tepat Waktu

Dengan menceritakan pengalaman versi-nya, SAE lewat bab berjudul Krisis HKBP Kali ini, Selagi Masih Siang sebenarnya mengundang secara terbuka, siapapun untuk belajar dan mengambil sikap kritis atas satu periode penting dalam perjalanan gereja di Indonesia yang memberi banyak pelajaran.

“Dengan menceritakan permasalahan seputar krisis HKBP, saya sebenarnya ingin mencontohkan bagaimana pertumbuhan gereja untuk menjadi dewasa di tengah masyarakat yang majemuk, sekaligus sikapnya dalam menghadapi penguasa,” simpul SAE saat ditanya mengapa ia tetap menceritakan episode ini di catatan perjalanannya.

SAE Nababan

Bagikan

Published in HKBP