Skip to content →

Agar Pelayanan Pemuda Bisa Jalan

Meski berusia cukup lanjut, Pdt. SAE Nababan nampaknya masih sangat menaruh perhatian pada pelayanan kaum muda. Di banyak kesempatan, Ephorus emeritus HKBP ini selalu antusias kalau berbincang bagi kaum muda atau menyangkut masalah generasi muda.

Namun, perhatian ini justru bukan karena ia ingin mendikte atau memberi pakem-pakem tertentu buat kaum muda. Baginya kaum muda justru sangat mungkin untuk merancang dan mengeksekusi gerakan yang relevan dengan tantangan zaman terkini.

Tidak mungkin kita menggurui,” ungkapnya dalam webinar bulan lalu. “Saya sendiri biarpun berpuluh tahun melayani pemuda di Asia, di dunia maupun di Indonesia, saya tidak berani mau menggurui pemuda sekarang. Tapi harus memberi kesempatan.

Menurutnya yang justru jadi penghambat kegerakan kaum muda adalah sikap para orang tua yang merasa tahu segalanya, memaksakan diri menjadi penasehat walaupun tidak relevan. Lebih dari itu, pemuda pun seringnya hanya sebagai pelengkap, termasuk di gereja.

Di HKBP misalnya. Seringkali orang tua itu jadi paniroi buat NHKBP. Padahal sintua pendamping itu bisa jadi tidak pernah terlibat dengan kegerakan kaum muda,” kritiknya. “Saya percaya NHKBP bisa jalan sendiri dengan kaum muda, sebab saya juga mengalaminya.

Dalam Buku Selagi Masih Siang kita dapat melihat sekilas pengalaman itu.

Selagi berkuliah di Jakarta dan aktif di HKBP, Soritua muda turut dalam merintis kebaktian berbahasa Indonesia bagi kaum muda. Demikian pula rintisan ibadah yang memang diselenggarakan sepenuhnya oleh pemuda. Bahkan, saat menjadi pendeta, SAE Nababan juga giat mendorong agar organisasi pemuda HKBP menjadi organisasi yang sepenuhnya dikelola dari ide dan karya kaum muda.

Secara sinodal hal itu juga dirintis saat aturan HKBP memberi kesempatan pada kaum muda untuk melayani menjadi penatua.

Baca juga:  UEM Berduka atas Wafatnya Pdt. Dr. Soritua A.E Nababan

Dalam pelbagai hal upaya itu memang menemui kendala. Secara khusus Pdt. Nababan menyoroti kultur masyarakat Batak yang tidak memberi ruang bagi pemuda terlibat dalam kehidupan sosial.

Di masyarakat Batak cuma ada orang tua dan anak-anak, yang jadi pembedanya sudah menikah atau belum. Tidak ada ruang buat pemuda. Biar sudah doktor atau punya banyak pengalaman pun kalau masih belum menikah, tetap dianggap anak-anak,” komentar Pdt. SAE.

Ini pula yang cukup mempengaruhi mengapa penghitungan jemaat HKBP diukur dengan jumlah keluarga bukan per pribadi. Ini sangat membatasi peran pemuda, padahal lewat gerakan kaum muda banyak hal yang bisa memperbarui gereja.

Bagi Pdt. SAE hal ini sudah tidak relevan lagi.

Sudah saatnya kaum muda terlibat penuh di jemaat. Apalagi buat pelayanan pemuda itu sendiri. Mereka harus diberi ruang dan kesempatan. Kalau tidak, gereja tidak akan relevan,” pungkasnya.

Bagikan

Published in Buku