Skip to content →

SAE dan Energi Pisang Rebus

Masa krisis HKBP 1992-1998 banyak memberi pengalaman tidak enak bagi Pdt. SAE Nababan. Berkali-kali ia bersama sang istri harus berpindah tempat tinggal.

Hampir di mana-mana, terutama di Sumatra, terjadi persengketaan, perebutan gedung gereja, penggusuran, terutama para pendeta dan guru jemaat yang tidak mengikuti Sinode Agung Istimewa (SAI) Tiara.

Rumah Ephorus turut digusur ketika kami tidak ada dan semua barang kami diletakkan begitu saja di halaman depan. Cara-cara mereka umumnya dilakukan dengan aksi-aksi kekerasan dibantu oleh penguasa militer setempat,” demikian Pdt. SAE mencatat.

Di masa itu SAE kerap mengunjungi tempat-tempat penyelenggaraan kebaktian kebangunan rohani (KKR), yang dalam banyak kejadian sering dihadang atau dibatasi.

Sebenarnya waktu itu kondisi kesehatannya sudah cukup menurun selepas operai bypass yang dijalani sesaat sebelum Sinode Godang HKBP 1992. SAE mesti menjaga asupan nutrisi, mengatur kesibukan serta menjaga kesehatan emosional agak tidak terlalu stres.

Namun, upaya untuk menggembalakan umat yang tidak mau gereja ditundukkan adalah tuntutan yang tidak bisa ditawar. KKR sebagai salah satu sarana penggembalaan itu dijalaninya dengan giat, meski banyak halangan.

Dalam sebuah webinar diskusi buku Selagi Masih Siang, Alida Tobing, istri Pdt. SAE, menceritakan bagaimana mereka banyak dibantu oleh rekan-rekan pendeta dan jemaat yang mendukung perjuangan HKBP. Kadang kala, seperti harus bermain kucing-kucingan dengan aparat yang kerap menghadang ia masuk ke satu wilayah.

Pernah kami malam-malam berangkat dengan mobil adik saya. Membawa rantang makanan lalu langsung masuk ke Tarutung. Karena paginya pasti akan dihadang, sehingga tidak bisa hadir di KKR,” kenang Alida.

Dalam keadaan yang demikian seringkali mereka tidak bisa mampir untuk sekedar makan dan istirahat. Lantas bagaimana cara mereka menjaga diri agar tetap sehat?

Baca juga:  Sepenggal Kisah SAE di Kottayam: Bertemu “Penjajah” yang Canggung

Kami biasa membawa pisang rebus dan air putih. Karena tidak mungkin singgah di warung. Ternyata itu cukup membantu. Puji Tuhan, saya dan Bapak tetap sehat meski banyak menghabiskan waktu di kendaraan,” lanjut Alida.

Penyertaan Tuhan dirasakan Alida sebagai mujizat keseharian. Di masa-masa itu hampir tidak ada halangan fisik yang berarti buatnya dan SAE, meski kesibukan dan tantangan yang dialami terbilang berat.

Bagikan

Published in Buku