Skip to content →

Pintar Mengolah: Kalau Tak Jadi Pendeta, Apakah SAE Bakal Jadi Pengusaha?

Pintar mengolah…

Frasa khas Melayu-Medan ini memang punya konotasi unik. Satu sisi menggambarkan orang yang diasosiasikan sikap yang mungkin licik, mengambil banyak keuntungan pribadi. Tapi, “pintar mengolah” sering juga dipakai dalam makna positif. Yaitu orang yang memang lihai negosiasi di organisasi maupun bisnis.

Frasa itu, tentu dalam konotasi positifnya, beberapa kali jadi komentar orang-orang akan kemampuan Pdt. SAE Nababan bernegosiasi. Tidak hanya soal kepemimpinan di gereja atau organisasi ekumenis, SAE memang sejak kecil lihai berurusan dengan orang dan keuntungan.

Beberapa penggalan kisah di Selagi Masih Siang menunjukkan hal tersebut. Kisah kanak-kanaknya adalah salah-satu contoh. Dimana dia bisa tawar-menawar dengan anak guru Belanda yang merupakan tetangganya.

Kami punya sepeda kayu. Tiap lewat depat rumah mereka, anak guru itu terlihat ingin sekali ikut main sepeda. Akhirnya dia datang meminjam sepeda kami. Saya katakan boleh asalkan ia memberi kami jambu. Ternyata ia setuju,” kenang SAE.

Momen itu ternyata jadi bekal cukup penting buat hidup pendeta yang satu ini. Sedari awal, Soritua kecil sudah tidak minder bergaul dengan ragam bangsa, termasuk warga Eropa.

Tidak benar kalau orang kulit putih lebih tinggi derajatnya atau lebih pintar daripada orang yang berwarna kulit lain. Dari situ juga saya belajar, apa yang ada pada kita dapat dimanfaatkan untuk memperoleh yang belum ada pada diri kita,” ungkapnya.

Hal “pintar mengolah” itu terus dilakoni Soritua kecil di banyak kesempatan. Ia pernah dikenal jagoan dalam menebak juara pacuan kuda di Siborongborong. Namun Soritua tidak pernah memasang taruhan, hanya memberi rekomendasi, sembari ia sendiri berjualan cerutu dan kue tipang. Barang yang dijajakannya bermodal kepercayaan Satia, seorang Tionghoa pemilik toko kelontong.

Baca juga:  Di Balik Krisis HKBP 1992-1998

Kalau tebakannya tepat – dan itu sering terjadi – ia langsung menyodorkan dagangannya untuk dibeli. Tak jarang ia mendapat keuntungan lebih dari biasanya. Tapi kalau kalah, ia memberikan tipang bagi si petaruh. Mungkin semacam customer relationship di era bisnis masa kini.

Hal serupa pun dilakukannya saat kuliah di Jerman. Saat mencari penghasilan tambahan sebagai pelayan (ober) di restoran, SAE juga punya sejumlah kiat-kiat khusus – semisal menyapa dari luar dalam bahasa Inggris untuk turis Amerika, membukakan mantel bahkan memberi informasi wisata di Heidelberg. Ini membuatnya selalu kebagian tip dan restorannya banyak dikunjungi tamu.

Bahkan dalam acara pengenalan kebudayaan antar bangsa yang diselenggarakan kampus, SAE sempat mempromosikan sambal yang dijualnya. Tak hanya itu, program kampus itu pun disambut baik masyarakat, SAE sering diundang untuk berdiskusi. Hal yang membuat di masa akhir perkuliahannya di Heidelberg, SAE tak perlu risau soal biaya hidup dan uang saku.

Bakat “pintar mengolah” ala pendeta Nababan memang istimewa. Bisa jadi kalau bukan jadi pendeta, ia cukup cocok menjadi pengusaha.

Bagikan

Published in Buku