Skip to content →

Pdt. SAE Nababan dan Tragedi HKBP

Satu hal yang saya ingat tentang sosok almarhum Pdt. Dr. SAE Nababan, mantan Ephorus HKBP masa bakti 1986-1998. Tegas, tegar, pemberani dan peduli serta komit tentang prinsipnya yang meletakkan dasar pelayanan di HKBP berlandaskan kasih, keterbukaan, seimbang dan setara serta berkeadilan dengan memisahkan pelayanan iman (transedental) dengan kepentingan duniawi dan (pemerintah).

Itu makanya, sejak bibit perpecahan yang ditumbuhkan mulai ada di HKBP pada akhir 1980- an, SAE Nababan tidak bisa mengakomodir kehadiran Tim Damai pimpinan Jenderal M. Panggabean.

Selain dianggap sudah terlalu jauh mencampuri (internal) HKBP dan urusan pelayanan iman, kehadiran Tim Damai dianggap berpihak dan sarat akan kepentingan politik pemerintahan Orde baru saat itu.

Sebagai wartawan Mingguan Populer SENTANA Jakarta saat itu, penulis berusaha menyikapi kemelut HKBP secara objektif dan berimbang sesuai dengan fakta yang ada.

Tapi kenyataannya, apa yang terjadi di gereja terbesar di Asia itu adalah sebuah fenomena akan adanya intervensi untuk melemahkan HKBP dan menggiringnya untuk kepentingan rezim juga kekuasaan dan secara khusus target untuk menyingkirkan Pdt. SAE Nababan sebagai ephorus dan pucuk pimpinan.

Ini terbukti, dengan keputusan Ketua Bakortanasda/Panglima Kodam I BB Mayjend. Pramono dengan Skep/3/Stada/XI/1992 tanggal 23-12-1992 yang merujuk untuk digelarnya Sinode Agung Istimewa (SAI) HKBP di Hotel Tiara Medan pada pertengahan Februari 1994 sekaligus ‘mengangkat’ Pdt. PWT Simanjuntak sebagai ephorus dan Pdt. SM Siahaan sebagai sekjend.

Kenapa Pdt. SAE Nababan harus disingkirkan dan harus ada dualisme kepemimpinan di HKBP? Ini tak terlepas dari sikap dan kepemimpinannya yang tetap teguh memperjuangkan demokrasi, keadilan dan hak asasi manusia di tengah kekuasaan yang otoriter dan absolut.

Nababan yang mantan ketua umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) dan kemudian jadi ketua Dewan Gereja Sedunia itu tetap lantang menyuarakan demokrasi, hak asasi manusia dan keadilan sosial bersama tokoh demokrasi lainnya seperti Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri.

Baca juga:  Pemakaman Pdt. SAE Nababan Berlangsung Lancar

Selain tetap menggaungkan pelayanan iman yang penuh kasih dan tulus, Nababan juga membuka diri agar HKBP menjadi gereja yang mandiri, terbuka dan modern.

Apalagi, dalam setiap aksi tuntutan masyarakat yang merasa diperlakukan tidak adil dan dirugikan, semisal tuntutan warga atas dampak negatif limbah PT. Indorayon, Nababan terang-terangan mendukung dan memberi support kepada masyarakat.

Prinsipnya yang lebih baik berseberangan dengan kekuasaan dari pada menikmati hidup di tengah penderitaan rakyat dan jemaat HKBP inilah yang membuatnya harus siap menerima segala konsekuensinya.

Bagaimana akhirnya para pendeta, pelayan dan jemaat yang mendukungnya jadi diperlakukan semena-mena dan diusir dari gereja yang mereka bangun sendiri. Bahkan, banyak dari jemaat harus mendapatkan siksaan dan ditangkap oleh aparat polisi dan militer yang bertugas mengamankan SK Ketua Bakortanasda Sumut.

Salah satu kejadian brutal yang pantas dicatat dan tidak bisa dilupakan adalah saat pendukung Pdt. PWT Simanjuntak hasil produk SAI Tiara merebut paksa kantor HKBP Distrik V Sumatera Timur di Pematang Siantar lengkap dengan peralatan bak dalam keadaan perang seperti senjata tajam, tombak dan benda keras lainnya.

Banyak korban yang jatuh dipihak Nababan akibat serangan yang tak diduga ini. Anehnya, yang ditangkap bukan pihak penyerang tapi justru para korban pengikut Nababan yang diserang.

Tapi satu hal yang patut dicatat dan digarisbawahi dari kejadian ini. Kendati rezim Orde baru sudah menggusurnya lewat SAI Tiara, bukan berarti dukungan dari jemaat HKBP maupun luar HKBP jadi surut.

Rasa cinta dan empati jadi mengalir semakin deras dari berbagai kalangan bahkan dari luar HKBP seperti gereja-gereja tetangga. Umat bahkan rela bertaruh nyawa menjaga gereja dari perebutan dan serangan kelompok SAI Tiara yang didukung pemerintah dan militer.

Baca juga:  Malam Refleksi 88 Tahun Pdt. SAE Nababan

Banyak jatuh korban dipihak Nababan yang dikenal kelompok yang Setia Sampai Akhir (SSA) ini namun tetap teguh mempertahankan AD/ART HKBP secara murni dan konsekuen, bukan karena intervensi dari pihak luar atau pemerintah.

Kecintaan mereka kepada HKBP sebagai gereja dan rumah Tuhan yang murni dan mandiri,  serta kepemimpinan SAE Nababan yang tetap teguh  mempertahankannya, membuat jemaat tidak peduli dan mempermasalahkannya.

Dukungan itu terus mengalir dan semakin membesar. Ini bisa dilihat dan dibuktikan saat Nababan akan memimpin Ibadah Raya di Narumonda Porsea, Taput.

Kendati seluruh akses dihadang dan dijaga aparat militer dengan senjata lengkap, warga jemaat tidak peduli akan resiko dan tetap melangkah maju agar bisa mengikuti ibadah yang dipimpin langsung ephorus yang mereka cintai. Dan satu hal yang perlu dicatat, kurang lebih 10 ribu umat hadir dalam ibadah itu.

Hal yang sama terjadi di daerah lain seperti di Medan, Samosir, Siantar, Tebing Tinggi dan daerah lainnya. Saat Nababan akan memimpin kebaktian, aparat militer turun langsung untuk mengusir, mengamankan dan menghalau massa. Tapi, hasilnya tetap fenomenal dengan jumlah massa yang hadir diatas 5000 orang.

Fakta ini, membuatku jadi teringat akan kata dari sahabatku alm. Pdt. Piktor Simanjuntak. Pendeta HKBP yang tidak memihak ini mengakui, bahwa apa yang terjadi di HKBP saat itu adalah kerja nyata Tuhan untuk ‘manege’ (memilah/menjaring) orang-orang yang betul-betul pantas jadi pelayan Tuhan dan pemimpin Gereja Tuhan. Atau bahasa sederhananya menurut beliau, hasilnya akan nampak apakah orang itu mengandalkan Tuhan atau hanya bersandar pada manusia dan kekuasaan?

Selamat jalan amang. Selamat jalan Ompui Ephorus Emeritus Pdt. Dr. SAE Nababan. Damailah bersama Bapa yang disorga.

Baca juga:  Sempat Ganti Nama: Kenangan SAE Nababan di HKBP Kernolong

*Catatan: Renaldo Sihombing (wartawan senior SENTANA)

Bagikan

Published in Obituari