Skip to content →

Khotbah SAE: Jangan Membunuh (2)

Pembalasan atas pembunuhan tidak diperbolehkan bagi pengikut Kristus. Marilah kita mengalihkannya pada dua jalur:

Jalur pertama adalah hukum. Itulah mengapa ada pengadilan di dunia ini. Tidak hanya umat Kristiani, agama-agama lain juga mengenal pengadilan. Bangsa yang tak mengenal Tuhan pun punya peradilan untuk menghakimi pembunuh. Agar keadilan ditegakkan. Agar manusia bisa hidup.

Maka dari itu orang Kristen juga harus meminta pengusutan dan penegakan hukum. Jika ada yang membunuh anggota jemaat kita, namun belum diketahui perlu diusut. Gereja tidak boleh diam atas kasus penghilangan nyawa. Biar harus berjuang bertahun-tahun, kalau perlu puluhan tahun, gereja harus terus menanyakan penuntasannya. Siapa pelakunya harus dibawa ke pengadilan.

Sebab karena itulah Yesus berkata: “Stop, jangan membalas. Tetapi adukanlah ke pengadilan!”

Kita tidak boleh membalas yang jahat.” Namun, bisa saja orang jahat itu memakai kita sebagai alatnya. Kita pun menjadi korban. Sekali lagi saya berkata, jika saya membunuh karena pembalasan, aku tetaplah seorang pembunuh. Bukan orang benar. Pembalasan pun bisa menjadi lebih kejam dan berlanjut terus-menerus.

Itulah sebabnya sejak awal, di kalangan orang percaya perlu ada keadilan. Perlu ada lembaga peradilan. Itu sebabnya para nabi di Perjanjian Lama begitu kritis kepada lembaga peradilan. Kepada hakim dan jaksa yang lalim.

Pengadilan agama maupun negara harus adil. Jika itu terjadi maka akan baik. Namun, apakah hanya akan berujung disana? Kita tidak boleh membalas, tapi mengadukan ke pengadilan? Tidak hanya itu! Lebih dalam dari itu, kita tahu Allah mengawasi setiap hidup manusia. Mana yang mati, mana yang hidup. Siapa yang terbunuh, siapa yang pembunuh. Tuhan memiliki pembalasannya sendiri.

Baca juga:  Pdt. SAE: Keadilan Mendahului Perdamaian

Sebenarnya, jika kita ingat ayat hafalan di katekismus saat kita anak-anak, ada ayat Alkitab yang menyebut: “Akulah TUHAN, Allahmu, Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku.”

Allah membalas. Ia membalaskan kejahatan. Itu pula yang diperjelas oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat Roma: “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: ‘Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan,’ firman Tuhan.

Jelas bahwa pembalasan adalah urusan Tuhan. Mengapa demikian?

Pertama karena Tuhanlah yang empunya hidup kita. Hanya yang empunya hiduplah yang berhak mengambil hidup manusia. Bagi Allah yang empunya hidup, hidup kita itu berharga sekali.

Kedua, karena hanya Ia yang bisa benar dalam membalas. Pembalasan Allah itu, saudara sekalian, tidak seperti pembalan manusia. Pembalasan manusia, jika dipukul maka dapat dibalas pukul kembali. Bisa berkali-kali. Tapi pembalasan Tuhan sekali untuk selamanya. Tak ada manusia yang lebih besar dari pada-Nya. Sekalipun orang itu penguasa, besar, mulia, kaya atau hebat. Lihatlah dalam sejarah, begitu Allah membalas, remuk.

Satu hal lagi, kita tidak boleh lupa bahwa Allah tak mungkin lupa. Kita bisa saja lupa, tapi Allah tidak. Maka dari itu orang percaya selalu menyerukan: “Teruslah dalam upaya menuntut hak keadilanmu.”

Pembalasan Allah itu adil. Jauh lebih baik jika kita tidak perlu bersalah pada Allah. Mengapa? Sebab begitu Ia membalas, itu panjang untuk selamanya. Setidaknya itulah yang kita percayai.

Pernah ada cerita seorang pemuda yang ingin menjadi pendeta. Ia berkata: “Leluhur kami yang dulu membunuh Munson dan Lyman (misionaris dari Amerika).” Sudah lewat beberapa ratus tahun, sebab itu terjadi di abad kesembilan belas. “Namun, hingga kini, belum ada satupun dari keturunan kami yang bisa tertahbis jadi pendeta, doakanlah supaya aku bisa menjadi pendeta,” begitu katanya.

Baca juga:  Kapan Gerakan Ekumenis Indonesia Dimulai?

Saya tidak perlu meneruskan cerita itu, tapi memang bisa saja terjadi. Kita tak perlu jauh-jauh mencari contoh ke Israel, kejadian itu terjadi di tengah-tengah bangsa kita, suku kita. Begitu Allah membalas, itu berlipat ganda. Ini bukan kekejaman Allah, namun bentuk Ia mendidik umat-Nya. Allah disebut juga Allah yang membalas di Mazmur 94.

Mengapa harus begitu? Sebab orang yang melakukan kejahatan sering mengira: “Allah tidak akan mendengar.” Sebab yang dibunuh mungkin saja orang kecil, tidak punya status di negara ini. Hanya kanak-kanak, tukang jualan sederhana, atau orang yang renta.

Mungkinkah yang menciptakan telinga tidak mendengar? Tuhan tidak mungkin lupa. Inilah yang menjadi penghiburan bagi kita, saat kita menjadi kerabat korban pembunuhan. Penghiburan karena Allah lah yang membalas.

Maka apa yang perlu kita lakukan? Bagaimana sikap kita? Yesus meninggalkan teladan pada kita saat terjadi kekerasan dan pembunuhan. Yaitu, saat ia tersalib. Saat ia sekarat menjelang kematian. Yesus berdoa: “Ampuni mereka Bapa, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Kita mesti sampai pada teladan itu jika kita ingin menjadi umat Kristen yang percaya. Apakah ada yang bisa sampai ke tahap itu? Alkitab mencontohkan Stefanus, saat dilempari batu dan disiksa ia berdoa serupa: “Tuhan terimalah rohku. Ya Tuhan jangan tanggungkan dosa ini kepada mereka.

Dalam situasi sebagai korban, marilah kita meminta kekuatan dari Allah untuk mengampuni. Kalau dari diri kita, tak mungkin bisa. Kalau pembalasan itu urusan Allah.

(Dikutip dan Diterjemahkan dari Khotbah Kebaktian Kebangunan Rohani/Penghiburan bagi Keluarga Korban Kekerasan Minggu, 6 September 1998, Narumonda, Tapanuli Utara)

Bagikan

Published in Tulisan