Skip to content →

Saat SAE Nababan Jadi Koki

Pembagian tugas rumah tangga adalah hal keseharian yang dialami Soritua sejak masa kecilnya. Di keluarganya, tugas-tugas seperti mencuci, membersihkan rumah, memasak dan hal lain selalu dibagi rata, berdasarkan kecakapan dan tanggung jawab. Tidak ada yang boleh berpangku tangan di rumah.

Pdt. SAE Nababan sering kebagian tugas memasak. Proses itu pun dilakoni layaknya seorang koki. Sebab seringkali ia yang berbelanja ke pasar, merancang menu, memasak hingga menyajikannya. Dengan budget yang terbatas, ia tahu betul bagaimana membuat menu yang sederhana namun cukup lengkap dan sehat.

Didikan ini ternyata sangat berguna, terutama di masa-masa perkuliahan SAE. Saat menjelang akhir perkuliahannya di Jakarta, kampus Sekolah Teologi-nya kehilangan bapak asrama. Itu membuat pengaturan makanan di asrama diserahkan kepada SAE. Ia langsung menyanggupi.

Ini berarti saya harus bangun lebih pagi setiap hari, supaya sempat pergi ke Pasar Cikini untuk membeli sayur, ikan, atau daging. Sekali seminggu saya membeli beras,” kenang SAE dalam catatan perjalanannya.

Disinilah semua pengalaman pada masa kanak-kanak di Siborongborong menjadi sangat berguna. Kemampuannya memilih ikan yang segar dan enak, aneka sayur yang segar hijau, sekali-sekali tulang sup sapi, buah-buahan, serta menentukan rasa makanan yang pas – semua diterapkan bukan hanya untuk dirinya tapi seluruh mahasiswa yang tinggal di asrama kala itu.

Begitu pula ketika mengawasi pemasakan di dapur. Dengan anggaran yang sama dengan sebelumnya, ternyata dalam beberapa bulan para mahasiswa dapat menikmati makanan yang lebih banyak, enak, dan sehat.

Saya juga dapat upah bergizi,” lanjut SAE. “Saya dapat meminum sup iga tiap sore bersama Theo de Haardt, teman sekamar.

Baca juga:  Rahasia Kelapa dan Perjalanan SAE ke Tor Honas

Tapi ketika menjalani orientasi kuliah di Wuppertal (sebelum masuk ke Heidelberg), SAE harus mengakui ada rekan yang lebih jago dalam memasak. Tsang, rekan seangkatannya dari Hongkong ternyata punya racikan yang lebih enak. “Saya cuma kebagian tugas membeli bahan makanan dan memasak nasi,” ungkapnya.

Namun, saat jelang akhir kuliah, SAE pernah menggelar festival budaya dimana para pesertanya memperkenalkan makanan khas negara masing-masing.

Saya mulai dengan memberi contoh: memasak nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi di atas setiap piring. Ketika itu, untuk mengurangi beban biaya hidup, saya menjadi agen penjual sambal yang saya pesan dari Belanda. Maka, saya juga menjelaskan betapa sehat dan enaknya sambal dengan nasi goreng. Mereka pun kemudian membeli sambal yang saya jual,” tulis SAE di Selagi Masih Siang.

Pdt. SAE Nababan nampaknya cukup mumpuni untuk jadi koki rumahan.

Bagikan

Published in Buku