Skip to content →

HKBP: Gereja Lutheran Gado-gado

Judul itu tidak berniat mengejek. Tapi ingin menunjukkan kompleksitas teologis dalam kekristenan Batak secara umum, maupun organisasi gereja di HKBP secara khusus.

Misi modern Kristen di Tanah Batak dimulai oleh Gereja Baptis. Baik dari lembaga misi Baptis di Inggris, maupun Amerika. Burton dan Ward, merupakan misionaris pertama yang mewartakan Injil di Silindung pada 1824, meski mereka tidak berhasil merintis jemaat. Sepuluh tahun kemudian, Munson dan Lyman dari Gereja Baptis Amerika Serikat juga tiba di Tapanuli Utara, namun mereka tewas terbunuh.

Misionaris yang benar-benar bisa melayankan baptisan pada orang Batak adalah Geritt van Asselt. Ia tiba di Tapanuli Selatan pada 1857. Dua putra Batak, Simon Siregar dan Jakobus Tampubolon, adalah warga pertama yang ia bimbing pertobatan iman Kristennya pada 31 Maret 1861.

van Asselt merupakan utusan sebuah lembaga misi kecil dari Emerlo, Belanda. Lembaga misi ini berdiri setelah jemaat Reformed di kota tersebut keluar dari Asosiasi Gereja Reformed Belanda, dan membentuk gereja misi (zending) sendiri. Jadi meski beraliran Calvinis, lembaga ini punya warna tersendiri yang membedakannya dengan kebanyakan gereja Belanda.

Karena lembaga misi itu Emerlo kecil, para misionarisnya tidak terlalu bisa mengimbangi perkembangan tugas pelayanan. Keterlibatan misionaris dari RMG Jerman pada 1861, memberi kesempatan lebih besar. Zending Emerlo dan RMG pun bersepakat untuk berbagi wilayah penginjilan di Tapanuli.

Akan halnya RMG, lembaga ini merupakan penyatuan dari sejumlah lembaga misi di Jerman dengan berbagai latar denominasi. Setidaknya kaum Lutheran, Calvinis dan semangat Pietisme begitu tampak dalam lembaga ini.

Dalam perkembangan berikutnya, pekerjaan misi di wilayah Sumatera Utara pun sempat bersinggungan dengan misi dari Gereja Katolik, Methodis, maupun Pentakosta. Tentu saja dalam praktik di lapangan ada saja jemaat yang pindah dan saling membawa warisan spiritual ini.

Baca juga:  Selagi Masih Siang

Ragam warna Protestan itulah yang kita lihat dalam tubuh gereja-gereja di Tanah Batak, khususnya HKBP. Dari bentuk ruang ibadah ada variasi mimbar di tengah (berfokus pada mimbar khotbah, ciri dominan Calvinis) atau di sisi kanan jemaat (berfokus pada altar, ciri Lutheran). Demikian pula pemaknaan terkait perjamuan kudus, sistem pemerintahan gerejawi, tahbisan pejabat gereja, tata urutan liturgis hingga banyak hal lain.

Sekalipun HKBP – bersama sejumlah gereja rintisan RMG lain di Indonesia – kini masuk menjadi anggota Lutheran World Federation (LWF), warnanya bukanlah sepenuhnya Lutheran. Bahkan konfesinya pun tidak sepenuhnya memakai konfesi Ausburg sebagaimana ciri kebanyakan gereja Lutheran.

Foto: unsplash

Bagikan

Published in Tulisan