Skip to content →

Pentingnya Laporan Keuangan bagi Pdt. SAE

Kalau pulang ke rumah, kami sering melihat Bapak duduk serius menghitung laporan keuangan untuk suatu kegiatan atau perjalanan,” demikian kesaksian Hotasi Nababan dalam sebuah forum.

Putra sulung Pdt. SAE Nababan itu menyebut bahwa ayahnya terbiasa menyelesaikan laporan keuangan bahkan sebelum kegiatan sepenuhnya beres. Karena bagi SAE, itu merupakan bentuk pertanggungjawaban yang tak dapat ditawar. Para pengerja pelayanan Kristiani tidak boleh bersikap persembahan itu adalah hal yang harusnya diterima tanpa perlu dilaporkan.

Agaknya, hal ini disadari Pdt. SAE terutama sejak ia mengorganisasi pertemuan mahasiswa Kristen se-Eropa, ketika ia menjalani studi doktoral di Jerman.

Saat menghandiri konferensi Gerakan Mahasiswa Kristen Jerman (Evangelische Student- engemeinde in Deutschland – ESGiD), SAE meyakini ada kebutuhan besar untuk mengumpulkan mahasiswa Kristen Indonesia yang sedang studi di Eropa saat itu. Ia membagikan niatan ini dan beroleh dukungan bagi banyak rekan. Bahkan, pimpinan Gereja Rheinland (EKiR, Evangelische Kirche in Rheinland) memberikan dukungan dana dan fasilitas.

Pertemuan pertama pada tahun 1958 berlangsung dengan lancar dihadiri lebih dari 50 orang. Demikian pula pertemuan kedua, ketiga dan keempat yang juga diorganisasi oleh Pdt. SAE.

Rupanya, pemimpin Gereja Rheinland terus mengikuti dan melihat manfaat pertemuan-pertemuan tersebut sehingga selama Pdt. SAE menangani pertemuan itu, EKiR memberikan dukungan penuh.

Saya memang memberikan laporan yang lengkap serta pertanggungjawaban keuangan yang terinci, sehingga diberi kepercayaan oleh EKiR. Benar juga ungkapan ‘sababa do tuan‘, karena rupanya para pemimpin gereja di Jerman saling memberi informasi juga tentang kami,” demikian dicatat Pdt. SAE dalam memoarnya Selagi Masih Siang.

Kepercayaan yang terbentuk karena transparannya penggunaan keuangan menjadi hal yang terus dipertahankan SAE sebagai etos pelayanannya.

Baca juga:  SAE Titipkan HKBP pada Pendeta Muda

Sewaktu memegang tanggung jawab di Dewan Gereja Indonesia (DGI) dan Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) serta belakangan di HKBP, saya terus mempertahankan model pertanggungjawaban keuangan yang demikian,” aku SAE.

Dengan begitu, umumnya Pdt. SAE menikmati kepercayaan hampir semua pemimpin kalangan pemimpin gereja. Baginya, kepercayaan adalah modal yang sangat menentukan dalam hubungan kemitraan oikumenis.

Bagikan

Published in Buku