Skip to content →

Darimana Hitungannya HKBP Sudah lebih 150 Tahun?

HKBP sebenarnya baru mandiri sebagai organisasi gereja pada 10 Juli 1940. Tanggal ini dikenal dengan istilah Batak: HKBP Majujung Baringinna.

Peristiwa itu terjadi selepas seluruh misionaris RMG asal Jerman dipenjarakan oleh Pemerintah Belanda. Pejabat Ephorus saat itu, Ds. H.F. de Kleine kemudian mengumpulkan seluruh pendeta Batak untuk mendiskusikan masa depan pelayanan gereja di Tanah Batak.

Ds. de Kleine mengusulkan pembentukan badan misi baru sebagai pengganti peran RMG menaungi jemaat Protestan di Tanah Batak. Namun, para pendeta Batak lebih bersepakat untuk memandirikan gereja. Di momen itu terpilihlah Pdt. K. Sirait menjadi Voorzitter (Ephorus) yang pertama dari pendeta Batak.

Lantas mengapa usia HKBP tidak dihitung dari tanggal ini, malah ke masa yang lebih jauh di tahun 1861?

Ternyata penghitungan tanggal berdirinya suatu jemaat atau organisasi gereja terbilang bervariasi. Hal serupa juga dialami oleh sinode gereja lain di Indonesia.

Sejumlah peristiwa yang dijadikan patokan antara lain: tanggal kedatangan misionaris ke wilayah itu, baptisan pertama, kebaktian minggu pertama, perjamuan kudus pertama kali, berdirinya majelis jemaat, rapat majelis jemaat pertama, tanggal peresmian oleh pemerintah setempat, tanggal pendirian gedung gereja, atau peristiwa lainnya.

Kelindan peristiwa itu pun sangat mungkin terjadi. Sehingga suatu jemaat terkadang merayakan beberapa tanggal terkait kelahirannya.

GKP, GKE dan GKJW misalnya, adalah sinode gereja yang mendasarkan tanggal berdirinya pada rapat majelis pertama di gereja tersebut. Namun, dalam penuturan sejarah, gereja-gereja ini juga menyebut peristiwa sebelumnya.

Lain lagi Gereja Angowuloa Faawosa kho Yesu (AFY) Nias yang mendasarkan tanggal pendirian sinodenya pada 9 November 1925. Momen dimana pendiri gereja Thomas Lombu, mendapatkan panggilan untuk memulai persekutuan doa.

Baca juga:  Khotbah SAE: Jangan Membunuh (2)

Di lingkup GKI Tanah Papua, tanggal kedatangan misionaris asal Jerman, Ottow dan Geissler pada 5 Februari 1855 dirayakan sebagai hari Injil Masuk Papua. Perayaannya lebih meriah ketimbang momen pendirian resmi Sinode GKI-TP pada 26 Oktober 1956.

Sering pula usia jemaat lokal jauh mendahului usia sinode gereja. Misalnya saja, Sinode GKI baru berdiri pada 26 Agustus 1988 setelah penyatuan tiga gereja berbasis jemaat Tionghoa di Pulau Jawa. Usia Sinodenya tentu kalah jauh, misalnya, dengan usia GKI Jawa Barat, yang sudah ada sejak 24 Maret 1940. Apalagi dengan usia jemaat tua seperti GKI Indramayu yang didasarkan pada baptisan pertama (Bapak Ang Bon Swie) di jemaat itu pada 1858.

Hal sebaliknya juga bisa terjadi. Gereja Protestan Indonesia (GPI, Indische Kerk) telah berdiri sejak tahun 1605, namun gereja-gereja bagian mandirinya seperti GPM, GMIM, GPIB, dan lain-lain baru mandiri setelah 1930-an.

Momen ulang tahun HKBP ternyata tidak didasarkan pada baptisan pertama yang berlangsung buat dua putra Batak, Jakobus Tampubolon dan Simon Siregar pada 31 Maret 1861. Sebab baptisan yang dilayankan oleh Pdt. Gerrit van Asselt ini adalah pekerjaan tunggal Zending Emerlo. Barulah pada 7 Oktober di tahun yang sama Zending Emerlo dan RMG bersepakat untuk berbagi tugas pelayanan di Tanah Batak.

Momen 7 Oktober 1861 ini dianggap sebagai ‘rapat pengerja’ pertama di kekristenan Tanah Batak. HKBP sebagai warisan dari kerjasama misi ini kemudian menyematkannya sebagai hari kelahiran.

Bagikan

Published in Media