Skip to content →

Protestan Memang Tukang Protes

Protestan itu bukan dari kata protes, tapi pro-testamentum, artinya pro pada perjanjian baru.

Kalimat seperti itu belakangan mungkin kita dengar di lingkup Protestan Indonesia, terutama di tradisi reformed-injili terkini. Agaknya, sebagian kalangan Protestan punya keinginan untuk membersihkan citra Protestan dari gambaran yang suka memprotes dan suka pada perpecahan.

Namun, sayang pemakanaan seperti itu terbilang ahistoris. Sebab tinjauan etimologi jelas menunjukkan bahwa istilah protestan memang berasal dari kata Latin protestantem (bentuk nominatifnya protestan), yang merupakan turunan dari kata kerja protestari, yang memang berarti tindakan protes.

Secara historis, istilah ini paling awal ditemukan dalam keputusan sidang imperial untuk wilayah Speyer (Diet of Speyer 1526). Dalam keputusan itu, para penguasa wilayah, serta kota-kota di Jerman yang tidak mau memenuhi tuntutan Edik Worms 1521 – untuk menghilangkan ajaran dan gerakan yang terpengaruh oleh Martin Luther – disebut sebagai kaum protestantem, orang yang memprotes.

Istilah itu tentu bernada peyoratif. Dipakai oleh penguasa gereja, dalam hal ini Gereja Katolik Roma, untuk mendiskreditkan kelompok yang menentang mereka. Karena ini pula, sampai sekian lama, gerakan reformasi yang dipelopori Luther, Calvin, Zwingli dan lainnya, tidak pernah memakai kata protestan untuk menyebut kelompok atau gerakan mereka.

Selain tetap memakai kata “kristen” dan “gereja,” umat reformasi awal di Jerman biasanya menyebut diri mereka sebagai kaum Injili (Jerman: evangelisch). Sampai sekarang di Jerman, kata itu memang identik dengan kelompok Protestan, terutama tradisi Lutheran. Nama-nama Sinode Protestan di Jerman sering menyandangnya sebagai nama diri. Misalnya saja, EKD (Evangelische Kirche in Deutschland).

Sementara itu gerakan reformasi di Perancis atau Swiss, yang dominan dipengaruhi oleh Calvin biasa menggunakan kata reformed (Perancis: reforme). Istilah ini juga kemudian menyebar ke wilayah Belanda.

Baca juga:  Soritua Telah Menyelesaikan Tugasnya (Obituari Singkat dan Testimoni Keluarga)

Kata “protestan” pelan-pelan menjadi bermakna netral di wilayah berbahasa Jerman selepas 1540-an. Mengingat situasi politik yang mulai memberi kebebasan pada kaum reformasi. Meski demikian, tokoh reformasi Jerman, terutama Luther, tetap lebih menyukai sebutan Injili, ketimbang Protestan atau Lutheran.

Perluasan makna protestan sebagai payung semua gerakan reformasi di Eropa baru terjadi setelahnya. Terutama setelah dialog intens dilakukan antar berbagai kelompok besar reformasi gereja di Jerman, Swiss, Belanda, dan negara-negara Eropa Utara.

Bagikan

Published in HKBP