Skip to content →

Profil

Nama Pdt. Dr (HC). Soritua Albert Ernst Nababan LlD, mungkin lebih banyak dikenal generasi menjelang era reformasi. Baik oleh warga jemaat HKBP maupun para aktivis demokrasi kala itu.

Pendeta kelahiran Tarutung 24 Mei 1933 ini adalah satu dari beberapa tokoh yang cukup kritis terhadap Orde Baru, terkait persoalan kemanusiaan, hukum dan keadilan.

Hal ini dalam banyak sisi kerap membuatnya harus berhadap-hadapan dengan kepentingan penguasa. Sebut saja contoh saat pembahasan mengenai sasaran dakwah keagamaan, persoalan asas tunggal Pancasila, hingga yang paling terlihat, saat intervensi rezim Orba pada krisis HKBP 1992-1998, ketika ia menjadi pimpinan sinode gereja tersebut.

Ini yang membuat suami dari Alida Lientje Lumbantobing, M.Sc ini dekat dengan tokoh progresif masa itu seperti K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri dan Amien Rais. Itu pula yang membuatnya terlibat dalam memfasilitas pertemuan yang mengkonsolidasikan kekuatan sosial-politik jelang reformasi.

Namun S.A.E. – demikian namanya biasa disingkat, adalah juga teolog yang terlibat dalam banyak gerakan ekumenis dunia. Ide dan pemikirannya tentang bagaimana gereja harusnya bersikap di tengah masyarakat yang majemuk, serta seimbang dalam menyuarakan keadilan dan perdamaian telah diunggah di banyak forum.

Demikian pula peran dan usulan yang ia ajukan terkait pentingnya kesetaraan dan dialog yang terbuka antar umat beragama di Indonesia, serta peran yang bisa dikerjakan lembaga keagamaan bagi perkembangan demokrasi dan kemanusiaan.

Refleksinya segar dan tajam serta menyorot hal-hal esensial terkait penghayatan iman Kristiani di tengah zaman yang terus berubah.

Disiplin yang diterapkan di keluarganya sejak kecil, studi teologia yang digelutinya di STT Jakarta hingga Universitas Heidelberg Jerman, aktivitasnya di kegiatan ekumenis dunia sejak masih muda, hingga pengalaman praksisnya memimpin gereja dan lembaga gerejawi – nampaknya memberi andil besar pada kedalaman ide dan pemikiran yang diwacanakannya.

S.A.E. saat ini sudah berusia cukup lanjut. Tapi teladan dan pemikirannya sangat layak untuk terus diangkat untuk dipertajam dan dicoba-geluti oleh generasi terkini.

Bagikan